Minggu, 13 Mei 2012
Seven Summit Indonesia Siap Taklukkan Gunung Everest
Tim Beta bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menuju Pegunungan Himalaya, Selasa (1/5). Tim terdiri dari 11 orang pendiri Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri dan jurnalis Metro TV.
Seven Summits sebenarnya terbagi atas dua tim yaitu Alpha dan Beta. Tim Alpha berangkat lebih dulu ke Himalaya pada 20 April 2012. Tim Alpha akan menjangkau puncak Gunung Everest yang tingginya mencapai 8.848 meter di atas pemukaan laut (Mdpl). Tim Alpha tengah mengadaptasikan diri dengan kondisi ketinggian di Himalaya.
Sementara Tim Beta akan mengantar petualangan Tim Alpha hingga ketinggian 6.100 Mdpl. Selain itu, Tim Beta juga memiliki misi mengampanyekan antiglobal warming dengan tema 'Everyday is Earth Day'.
Gunung Everest merupakan atap dunia terakhir yang menjadi tujuan penaklukan Seven Summits. Sebelumnya, Seven Summits menaklukkan enam puncak tertinggi dunia. Pendakian Seven Summits bermula dari Gunung Ndugu-dugu, Papua, pada April 2010. Tinggi gunung mencapai 4844 Mdpl
Pendakian kemudian dilanjutkan ke Gunung Kilimanjaro setinggi 5.895 Mdpl di Tanzamania pada Juli 2010. Pada Agustus 2010, Seven Summits menaklukkan puncak Gunung Elbrus, Rusia, yang ketinggiannya mencapai 5.642 Mdpl.
Seven Summits mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda menaklukkan puncak Gunung Aconcagua setinggi 6.959 Mdpl di Amerika Selatan pada Januari 2011. Misi penaklukan pun dilanjutkan dengan mendaki Gunung McKinley di Amerika Utara yang tingginya mencapai 6.194 Mdpl pada Mei 2011.
Terakhir, tepatnya pada Januari 2012, Seven Summits mengalahkan cuaca buruk hingga mencapai Vinson Massif di Antartika. Tinggi puncak gunung itu yaitu 4.897 Mdpl.(RRN)
Sumber : http://www.metrotvnews.com
Rabu, 01 Februari 2012
Gunung Katopasa Sulit Dipulihkan
"Tim Ekspedisi II Buka Jalur tahun 1996, MAPALA LALIMPALA"
Tim Aksi Peduli Katopasa tiba di Desa Mire, Kecamatan Ulu Bongka, Kabupaten Tojo Una-una pada hari Jum’at (27/1/2012). Tak banyak yang dilakukan tim hari itu selain beristirahat, berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan pemerintah desa. Segala sesuatu mesti disiapkan untuk acara pembukaan esok.
Aksi Peduli Katopasa merupakan kegiatan yang digagas oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Lalimpala yang berkedudukan di FKIP Universitas Tadulako. Aksi ini meliputi sosialisasi kepedulian lingkungan, penyusuranan rancangan regulasi yang mengatur aktifitas pendakian di Gunung Katopasa serta pembangunan kembali tugu puncak di ketinggian 3000 meter dari permukaan laut (mdpl).
Esok harinya, tim bersama pemerintah Desa serta tokoh masyarakat menggelar sosialisasi pentingnya perlindungan kawasan gunung Katopasa. Acara diselingi dengan pemutaran film documenter pendakian hari kemerdekaan, Agustus 2008 serta film krisis iklim yang bertajuk “Demam” kerjasama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan beberapa lembaga internasional.
Hari itu pula, setelah sosialisasi, elemen masyarakat bersama menyepakati rancangan regulasi untuk segala macam aktifitas di kawasan gunung Katopasa. Ada enam poin yang disepakati, diantaranya siapa pun yang melakukan aktifitas di kawasan tersebut mesti sepengetahuan dan seizin pemerintah desa.
Penggiat alam bebas pun akan diregistrasi jumlah personel dan jumlah logistic yang dibawa. Dilarang membuang sampah pada jalur pendakian merupakan poin lain dari aturan itu, logistik yang teregistrasi akan dicek kembali sampahnya.
Aksi Peduli Katopasa dilatarbelakangi oleh pengrusakan Tugu Puncak di gunung tertinggi ke dua di Sulawesi tengah ini. Pengrusakan itu terjadi pada pertengahan 2009 silam, dimana sekelompok orang menggali lubang raksasa tepat disekitar tugu dengan alas an mencari emas peninggalan Belanda.
“Aturan ini akan kami buatkan buatkan dalam Peraturan Desa,” ucap Kepala Desa Mire. Acara ditutup dengan pembentukan dan deklarasi kelompok pengawas aktifitas di kawasan gunung Katopasa. Kelompok yang terdiri dari pemuda dan tokoh adat inilah yang bertanggungjawab menjalankan aturan.
Sanksi pun telah diatur, sanksi sesuai undang-undang Negara untuk pelanggaran yang berdampak massif dan sanksi adat bagi pelanggaran yang berdampak lokal.
Minggu, (29/1/2012) pagi tim yang bertugas membangun kembali tugu puncak, berangkat dari kediaman Kepala Desa Mire. Tim rencananya akan mengabiskan waktu satu minggu hingga kembali ke Desa Mire.
Menurut Ketua Umum Mapala Lalimpala, Supriadi kondisi puncak Katopasa sulit untuk dipulihkan kembali. “Lubang raksasa telah menggantikan tugu penanda tanah tertinggi Tojo Una-una itu, tapi setidaknya kami ingin mencegah kerusakan yang lebih parah lagi,” katanya. (Ojan)
Sumber : http://www.silolangi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=206%3Agunung-katoapasa-sulit-dipulihkan&catid=49%3Aaksi&Itemid=112
Jumat, 06 Januari 2012
Carstensz Pyramide, Puncak Tertinggi di Indonesia
Tetapi salju ini diperkirakan akan menyusut dan mengering pada tahun 2024, hal ini disebabkan oleh pemanasan global. Perhitungan tersebut didasarkan atas analisis data empiris menggunakan pendekatan linier yang dikerjakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Jadi bukan tidak mungkin suatu saat pegunungan ini akan kehilangan salju seperti yang terjadi di gunung Kilimanjaro, Afrika.
Puncak Carstensz Pyramid memiliki ketinggian 4884 M dpl (16023 ft). Lokasi koordinatnya berada pada S 04°04.733 dan E 137°09.572, terletak di sebelah barat central highland yang disebut dengan Jayawijaya dan pegunungan Sudirman. Banyak yang mengira bahwa puncak Jayawijaya sama dengan Carstensz Pyramide, padahal kedua puncak ini bersebelahan letaknya.
Pada tahun 1623 Navigator dari Belanda John Carstensz menjadi orang pertama yang membawa kabar ke daratan Eropa tentang adanya puncak es di negara tropis di garis eografis equator Barat Papua Nugini. Hasil laporannya ditanggapi dengan gelak tawa oleh publik pada saat itu. Baru pada tahun 1899, selang 3 abad lamanya ekspedisi Belanda yang sedang membuat peta di situ membenarkan apa yang di sampaikan John Carstensz. Maka namanya di abadikan di situ.
Gunung ini memang terletak di Indonesia, namun pendaki yang menyemarakkan dengan menjelajahi punggungannya kebanyakan malah dari pendaki luar negeri bukan pendaki lokal. Tahukah Anda, setiap tahunnya ada sekitar 200-300 pendaki luar negeri yang mengeksplore gunung ini, sementara pendaki Indonesia hanya puluhan orang saja. Memang terlihat aneh, namun inilah faktanya yang terjadi di lapangan. Usut punya usut pendaki lokal terkendala dalam hal perijinan.
Untuk mendaki gunung ini ada dua akses, yaitu melalui freeport dan ilaga. Galih Donikara, seorang senior Wanadri menyebutkan untuk mendaki gunung ini harus memiliki rekomendasi dari kantor Menpora, Kapolri, BIA – intelejen Indonesia, Menhutbun/PKA, PT Freeport Indonesia (PTFI). Kalau mau lewat Tembagapura ditambah dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Itu semua harus diurus di Jakarta. Lalu di Jayapura, rekomendasi dari Bakorstranasda dan Kapolda harus dikantongi. Di Timika, rekomendasi EPO dan izin PTFI untuk fasilitas lintasan. ”Terakhir di Tembagapura, koordinasi dengan Emergency Response Group (ERG) untuk penanganan Emergency Procedur dan aparat Satgaspam untuk masalah keamanan lintasan,” jelas pendaki gunung yang sempat tergabung dalam ekspedisi Indonesia – Everest ’97 ini. Rentetan panjang daftar surat rekomendasi ini yang akhirnya banyak membuat pendaki kita lebih memilih mendaki luar negeri. Sementara untuk akses Ilaga, dibutuhkan lebih banyak lagi biaya dan waktu yang lebih lama untuk mencapai kemah induk.
Seorang petualang kawakan asal kota Malang "Bambang Hertadi Mas" pada tahun 1987 sempat mengurungkan niatnya mendaki puncak Carstensz dan lebih memilih berekspedisi ke Kilimanjaro yang ada di Tanzania. Saat itu ia berkomentar, ”Mending sekalian ke luar (negeri), toh ongkos dan susahnya proses perizinan relatif tidak jauh berbeda”.
Rute
Ada 3 rute utama untuk mencapai puncak Caratensz ini. Yang pertama biasa disebut dengan rute Harrer (Harrer’s Route). Rute ini merupakan rute yang paling mudah untuk dilewati. Meskipun mudah, tidak berarti segalanya akan mudah dalam menaklukkan puncak Jaya ini.
Harrer’s route menempuh perjalanan untuk naik dan turun sekitar 12 sampai 15 jam. Tingkat klesulitannya berkisar antara 3-4 standar UIIA. Kesulitan yang ada dalam menempuh rute ini adalah ketika berada di bawah puncak jaya. Kemiringan tebing yang curam, sampai dengan 10-15 derajat setinggi kira-kira 80 meter, membutuhkan ekstra kehati-hatian. Standar UIIA menyatakan bahwa kesulitan dalam hal ini adalah 5-5+. Pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam hal climbing merupakan bekal utama. Bebatuannya cukup kuat dan tidak mudah longsor/lepas. Kesulitan yang akan dihadapi akan lebih besar lagi ketika mencapai bebatuan yang bergerigi dengan overhang wall yang berkisar 10 meter, dengan tingkat kesulitan 6-7+ standar UIIA. Bagi pendaki pemula hal ini bisa diatasi dengan menggunakan Jumar sebagai alat bantu nya.
Rute yang kedua adalah East Ridge. Rute ini merupakan pertengahan antara rute Harrer dan rute yang paling sulit. Jalan yang ditempuh akan lebih jauh dan tentunya juga akan lebih lama.
Rute yang ketiga adalah American Direct. Rute ini merupakan rute yang akan menempuh perjalanan langsung ke puncak. Rute ini memerlukan skill, pengalaman, dan juga pengetahuan yang memadai tentang Climbing. Yang terburuk dari rute ini adalah, tingkat kesulitan yang semakin tinggi ketika mendekati puncak, yaitu tebing yang curam, dinding dari puncak Cartensz.
Sumber : http://www.djarum-super.com/adventure/adventure-news/content/read/carstensz-pyramide-puncak-tertinggi-di-indonesia/
Senin, 12 Desember 2011
SEVEN SUMMITEERS PERTAMA UNTUK INDONESIA

Pendakian 7 puncak ( The Seven Summits) benua adalah sebuah pendakian prestisus di dunia pendakian internasional. Dengan mendaki ke tujuh puncak benua yang terdiri dari Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Indonesia, Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Vinson Massif (4.889 mdpl ) di Antartika, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Everest (8.848 mdpl) di Nepal dan Denali (6.194 mdpl) di Alaska maka secara otomatis pendaki tersebut akan mendapatkan julukan sebagai The Seven Summiteers sebuah sebutan yang disepakati secara internasional bagi mereka yang berhasil mencapai 7 puncak.
Sejarah dunia mencatat seorang Richard “Dick” Bass, pemilik Snowbird Ski Resort, Utah, Amerika Serikat berhasil menggenapi pendakian The Seven Summits pada tanggal 30 April 1985 dengan Puncak Everest (8.848 mdpl) sebagai penutupnya dan berhasil menciptakan dirinya menjadi The Seven Summiteers pertama di dunia.
Lalu bagaimanakan dengan Indonesia ? Sebagi pemilik salah satu puncak The Seven Summits seharusnya Indonesia memiliki Seven Summiteers. Usaha mencapai gelar ini dimulai oleh (Alm) Norman Edwin dari Mapala Universitas Indonesia. Tetapi langkahnya harus terhenti di Aconcagua (6.962 mdpl) ketika jenasahnya ditemukan di gunung tersebut bersama jenasah (Alm) Didiek Samsu juga dari Mapala Universitas Indonesia. Sejak musibah ini terjadi pendakian untuk menggapai gelar The Seven Summiteer bagi Indonesia bagai hilang begitu saja.
Hingga akhirnya di awal tahun 2009, Mahitala Unpar berhasil mencapai Carstenzs Pyramid pada tanggal 23 dan 26 Febuari 2009. Maka Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) dengan Sofyan Arief Fesa (28), Xaverius Frans (24), Broery Andrew Sihombing (22), dan Janatan Ginting (22) sebagai pendakinya akan segera mendaki 6 puncak lainnya hingga tanggat waktu 2011.
Carstensz Pyramid, Papua, Indonesia (4.884 mdpl) – Piramidanya Indonesia
Bersama tujuh pendaki Mahitala Unpar, keempat pendaki ISSEMU berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramid pada tanggal 23 dan 26 Febuari 2010. Puncak Carstenzs yang kerap diselimuti kabut menjadi sebuah saksi bisu bahwa perhelatan pendakian Seven Summitsnya ISSEMU sudah dimulai.
Pendakian menuju Puncak Carstensz Pyramid dilakukan melalui jalur normal (atau sering disebut juga sebagai Harrer’s Route). Pendakian di jalur normal akan selalu dimulai dari Lembah Danau-Danau atau Lembah Kuning sebagai pemilihan Basecamp. Selepas dari Basecamp Lembah Kuning, pendaki harus mendaki vertikal ke arah Teras Kecil dan disambung pendakian vertikal menuju Teras Besar.
Setelah itu tim akan segera tiba di punggungan puncak (summit ridge). Di summit ridge ini pendaki ISSEMU harus melewati jurang besar yang membentang sepanjang +/- 15 meter. Melewati jurang ini diperlukan peralatan pendakian yang lebih lengkap dari sebelumnya dan mengunakan teknik penyeberangan tyrolean di mana setiap orang harus bergantung di seutas tali yang membentang secara horisontal dan menyeberangi tali tersebut selayaknya pasukan komando yang sedang mengendap-endap. Dari sini perjalanan menuju puncak tertinggi hanya perlu melewati 2 jurang yang memiliki bentangan hanya kira-kira satu setengah meter sehingga para pendaki dapat lebih mudah mencapai puncak.
Selain Puncak Carstenzs Pyramid, Mahitala Unpar juga berhasil mendaki 8 puncak Pegunungan Sudirman yang membentang dari barat ke timur. Proses pertama pencapaian puncak pertama ini Mahitala Unpar boleh berbangga hati karena diantara kesebelas puncak yang berhasil didaki, 4 diantaranya belum pernah didaki oleh siapapun juga (first ascend). Kedelapan puncak yang berhasil diraih oleh Mahitala Unpar antara lain : Puncak Idenburg (4.730 mdpl), Puncak Merah Putih (4.284 mdpl), Puncak Garuda (4.613 mdpl), Puncak Mahitala (4.610 mdpl), Puncak Unpar (4.523 mdpl), Puncak Jaya atau Soekarno (4.862 mdpl), Puncak Sunday Peak, dan Puncak Carstensz Timur.
Kilimanjaro, Tanzania, Afrika (5.895 mdpl) – Napak Tilas Zaman Purba Kilimanjaro
Pendakian akhirnya dilanjutkan menuju puncak tertinggi di Benua Afrika yakni Kilimanjaro. Untuk mendaki Kilimanjaro, Tim Pendaki ISSEMU sudah menentukan rute mana yang akan mereka jalani hingga menuju Puncak Uhuru (nama lain dari puncak tertinggi Kilimanjaro). Untuk menuju Puncak Kebebasan (Uhuru = Kebebasan) para pendaki dapat secara bebas memilih sekian banyak dari rute yang tersedia. Rute-rute menuju puncak tertinggi dibagi menjadi lima, yaitu : Marangu, Machame, Shira, Umbwe, Rongai, dan Mweka. Pada tahun 2007, Mahitala Unpar sempat melakukan sebuah ekspedisi pendakian di Kilimanjaro ini dengan menempuh rute Marangu yang terkenal dengan kelengkapan fasilitasnya dibandingkan rute-rute yang lain. Dengan alasan itulah Tim Pendaki ISSEMU menetapkan pilihan pada rute yang dirasa lebih menantang dan lebih unik.
Pilihan rute menuju puncak akhirnya jatuh pada Rute Machame. Di rute ini para pendaki tidak akan bertemu dengan mini shop, ruang tidur (hut) dan ruang makan seperti halnya yang kerap ditemui di Rute Marangu. Untuk urusan tidur pun mereka harus bermalam di dalam tenda hingga menuju Puncak. Rute Machame adalah rute terindah diantara seluruh rute yang ada. Opini ini setidaknya dikuatkan oleh buku yang berjudul Kilimanjaro: Africa’s Beacon terbitan Taman Nasional Tanzania tahun 2004. Di buku itu juga ditulis bahwa dengan menusuri Rute Machame maka para pendaki seakan melakukan napak tilas pada zaman purba Gunung Kilimanjaro.
Dengan segala macam bentangan alam yang menghadang, maka akhirnya Tim Pendaki ISSEMU berhasil menggapai Puncak Uhuru tepat pada tanggal 10 Agustus 2010 pk. 10.20 waktu setempat atau pk. 14.00 WIB. Tim Pendaki ISSEMU memulai summit day mereka dengan berjalan pada pk. 04.00 waktu setempat dari Arrow Glacier Camp (4.868 mdpl) dengan melewati Great Western Branch, sebuah kubah batu masif yang merupakan jalur alternatif tersulit menuju ke Puncak Uhuru. Perubahan jalur ini dilakukan malam sebelumnya ketika para pendaki ISSEMU mengusulkan untuk mencoba jalur yang lebih sulit kepada pihak Bobby Tours yang menjadi agen perjalanan mereka di Kilimanjaro. Perubahan jalur ini bukanlah tanpa alasan. Dengan mencoba kenaikan elevasi yang sedikit lebih tinggi, diharapkan para pendaki ISSEMU menguji ketahanan fisik mereka terhadap ancaman penyakit ketinggian. Sehingga dari sini Tim Pendaki ISSEMU mendapatkan hasil evaluasi untuk pendakian gunung-gunung selanjutnya yang akan semakin berat medannya.
Elbrus, Rusia (5.642 mdpl) – Terciptanya Indonesian Route di Sisi Utara Elbrus
Setelah berhasil mencapai Puncak Uhuru yang merupakan puncak tertinggi di Benua Afrika, Tim Pendaki ISSEMU segera melanjutkan pendakiannya menuju Negeri Beruang Merah, Rusia. Pendakian kali ini memang direncanakan secara estafet tanpa harus kembali dahulu ke Tanah Air. Selain meminimalisir budget, pendakian simultan seperti ini akan menjadi sebuah hal positif bagi para pendaki karena semakin lama di ketinggian maka semakin terbiasalah pendaki dengan ketinggian tersebut.
Negeri tempat dilahirkannya para pecatur andal ini memiliki gunung tertinggi yang hampir seluruhnya tertutup dengan salju. Dengan 2 puncak yang hampir sama tinggi (Puncak Timur dan Barat), Elbrus memberikan tantangan tersendiri bagi para pendaki kelas dunia. Mahitala Unpar sendiri pernah berkesempatan untuk mendaki atap Eropa ini pada pertengahan tahun 2009. Ketika itu Sang Dwi Warna berhasil dikibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus 2009. Keberhasilan pertama kalinya Mahitala Unpar mencapai Puncak Barat (puncak tertinggi Elbrus) membangkitkan semangat ke 4 orang pendaki Tim ISSEMU. Dengan berbekal pengetahuan dan semangat yang baik, pada tanggal 19 Agustus 2010 pendakian menuju Puncak Barat Elbrus segera digelar.
Pada pendakian kali ini, Tim Pendaki ISSEMU memutuskan untuk menembus punggungan salju Elbrus melalui sisi Utara. Sisi Utara Elbrus mendapat pilihan utama karena minimnya fasilitas dan pendakian yang harus dilakukan secara bertahap. Sisi Utara Elbrus memberikan kesan sebuah sisi gunung yang perawan.
Tidak seperti sisi Selatan yang memang kerap menjadi jalur pilihan utama bagi pendaki. Di sisi Selatan Elbrus, para pendaki akan dipermudah dengan fasilitas kereta gantung yang akan meringankan pendaki untuk mencapai ketinggian tertentu. Penginapan dan pondok-pondok kecil pun tersedia di sana. Soal keamanan jangan diragukan lagi. Setiap saat, mobil salju atau disebut sebagai snow cat hilir-mudik untuk mengawasi para pendaki dan para penggila olahraga ski.
Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Timur Elbrus tepat pada tanggal 24 Agustus 2010 pada pk. 14.45 waktu setempat atau sama dengan pk. 17.45 WIB. Dari proses summit attack inilah ternyata tercipta sebuah jalur yang diberi nama Indonesian Route oleh para Rescuer Elbrus (sebutan untuk Jagawana atau Polisi Gunung di Elbrus) sebagai penghargaan kepada Tim Pendaki ISSEMU yang berhasil membuka jalur baru selepas Camp Lenz Rock (4.750 mdpl) tanpa ditemani oleh pemandu ataupun pendaki lainnya. “Penyerangan” menuju Puncak Elbrus adalah hal yang cukup sulit mengingat Tim Pendaki ISSEMU harus melewati medan salju curam yang memaksa mereka harus menggunakan crampon dan ice axe dengan semaksimal mungkin. Selain itu Tim Pendaki ISSEMU juga sempat dihadang oleh Jet Stream (angin kencang yang suaranya menyerupai pesawat jet) yang berkecepatan kira-kira 50-80 km/jam. Tetapi berkat kegigihan dan semangat yang dimiliki oleh empat pendaki ISSEMU ini, akhirnya Merah Putih berhasil berkibar dengan gagahnya di titik tertinggi Benua Eropa.
Vinson Massif (4.897 mdpl), Antartika – Pertama Untuk Indonesia
Perjalanan menuju The Seven Summiteers pertama bagi Indonesia hampir separuh jalan. Tim Pendaki ISSEMU sudah mengantongi 3 puncak benua. Kini saatnya petualangan dilanjutkan menuju Benua Putih Antartika yang penuh dengan misteri. Pendakian menuju atap tertinggi Antartika, Vinson Massif, memiliki arti penting karena inilah kali pertamanya tim ekspedisi asal Indonesia menyambangi Benua Antartika untuk mendaki Vinson Massif.
Sebuah kota terujung di sebelah Selatan Benua Amerika Selatan, Punta Arenas, awal dari langkah Tim Pendaki ISSEMU memulai aksinya di Benua Putih Antartika. Tim Pendaki ISSEMU tiba di Punta Arenas pada tanggal 30 November 2010. Di kota inilah segala macam kebutuhan pendakian harus dipenuhi. Selain itu Tim Pendaki ISSEMU juga harus menghadiri sebuah presentasi kecil yang diadakan oleh Antarctic Logistic And Expedition (ALE) untuk menjelaskan “tata krama” memasuki Benua Antartika yang merupakan benua terbersih. Setelah itu Tim Pendaki ISSEMU juga harus mendapatkan pemeriksaan ketat peralatan pendakian yang dibawa apakah memenuhi standar yang ditetapkan atau tidak.
Walau sempat tertahan satu hari di Punta Arenas karena cuaca buruk, akhirnya pada tanggal 3 November 2010 Tim Pendaki ISSEMU bergerak menuju Union Glacier, sebuah pangkalan milik ALE yang digunakan oleh pesawat berbadan lebar, Iluysin 76 buatan Uni Soviet, untuk mendarat di tengah padang salju. Dari sini seharusnya segera melanjutkan penerbangan menuju Vinson Base Camp (2.310 mdpl) dengan menggunakan pesawat Twin Otter. Tetapi tampaknya perjalanan harus diundur esok paginya karena ganguan cuaca. Setibanya di Vinson Base Camp pendakian juga harus tertunda selama 3 hari karena cuaca kembali mengganas dan tidak mau kenal kompromi.
Baru pada tanggal 7 Desember 2011, Tim Pendaki ISSEMU dapat mulai meninggalkan Vinson Base Camp untuk berjalan menuju camp selanjutnya. Pendakian di Vinson Massif adalah yang paling menarik diantara sekian puncak yang pernah di daki oleh Tim Pendaki ISEEMU. Betapa tidak, di benua serba putih yang pada musim pendakiannya antara November-Januari, matahari tidak pernah berhenti menujukkan sinarnya selama 24 jam penuh. Selain itu ketiadaan porter atau pengangkut barang menyebabkan Tim Pendaki ISSEMU harus membawa barangnya sendiri-sendiri bergerak secara bolak-balik dari camp ke camp. Cara mereka membawa barang pun terbilang cukup unik. Selain membawa beban ransel di pundak, setiap pendaki harus menarik sebuah papan seluncur salju atau sled yang berisi barang bawaan masing-masing pendaki.
Akhirnya tepat pada tanggal 13 Desember 2010 pk. 17.07 waktu Chile atau setara dengan 14 Desember 2010 pk. 03.07 WIB, Merah Putih berhasil dikibarkan di titik tertinggi benua Antartika, Vinson Massif. Keberhasilan ini sekaligus mencatatkan bahwa Tim Pendaki ISSEMU adalah Tim Indonesia Pertama yang berhasil mencapai Puncak Vinson Massif dengan gemilang. Dan di gunung ini pula Tim Pendaki ISSEMU berkenalan pertama kalinya dengan suhu ekstrim -30 hingga -40 derajat Celsius.
Aconcagua (6.962 mdpl), Argentina – Mendaki The Devil Mountain dari dua jalur berbeda
Sudah mendaki 4 puncak benua adalah sebuah pengalaman yang amat berharga bagi Tim Pendaki ISSEMU apalagi dilakukan secara simultan seperti pendakian Kilimanjaro dan Elbrus. Setelah berhasil mengibarkan Sang Dwi Warna untuk pertama kalinya di Vinson Massif, Antartika, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini Tim Pendaki ISSEMU berjalan mengarah ke Utara dari Punta Arenas untuk memasuki nagara asal Lionell Messi, Argentina. Di Argentina inilah nantinya Tim Pendaki ISSEMU akan mencoba mendaki Gunung Aconcagua yang memiliki julukan cukup membuat bulu kuduk berdiri, The Devil Mountain. Sebutan ini mewakili kesangaran cuaca di Aconcagua yang memburuk sesukanya tanpa bisa diprediksi dengan baik. Dalang dari kesangaran Aconcagua tak lain adalah el viento blanco. El viento blanco adalah sebutan dari badai yang amat menakutkan di Aconcagua. Secara tiba-tiba kabut akan menyelimuti kawasan pendakian disertai angin kencang dan hujan salju.
Pada pendakiannya kali ini, Tim Pendaki ISSEMU didukung oleh 2 pendaki Mahitala Unpar lainnya. Detri Wulanjani dan Max Agung Pribadi (yang juga seorang wartawan harian Warta Kota) turut bergabung dalam pendakian Puncak Aconcagua sebagai pendukung untuk menulis berita dan mengabarkan pergerakan tim ke Tanah Air. Perjalanan panjang menuju Puncak Aconcagua dimulai dari Los Penitentes (2.580 mdpl), sebuah desa kecil tempat Tim Pendaki ISSEMU melaporkan kegiatannya terakhir kali sebelum mereka berjalan selama 3 hari menuju Plaza Argentina (4.200 mdpl). Plaza Argentina merupakan base camp dari pendakian Puncak Aconcagua.
Selain medannya yang sulit, tampaknya Aconcagua memiliki banyak hambatan. Hambatan tersebut datang dari para pemandu yang terlalu ketat dalam memandu perjalanan menuju Puncak Aconcagua. Terbukti Detri harus diturunkan dengan helikopter menuju Mendoza karena alasan kesehatan. Padahal beberapa pemilik camp diantaranya Daniel Lopez berusaha meyakinkan bahwa Detri akan baik-baik saja walau harus tetap tinggal di ketinggian 4.200 mdpl di Plaza Argentina. Hambatan serupa akhirnya menimpa Frans dan Janatan Ginting yang dinyatakan tidak layak untuk meneruskan perjalanan ke puncak karena gangguan pernafasan. Beruntung bagi Frans, akhirnya esok harinya ia dinyatakan dapat melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana dengan Janatan? Walau dapat menetap di Plaza Argentina, Janatan tidak boleh melanjutkan perjalanan meskipun 2 hari setelahnya kondisinya pulih dan dinyatakan layak untuk mendaki Puncak Aconcagua. Tetapi karena jarak yang terlalu jauh untuk menyusul rekan-rekannya, Janatan terpaksa berberat hati harus menunggu di Plaza Argentina hingga empat pendaki ISSEMU lainnya kembali ke Plaza Argentina. Di sini manajemen ISSEMU di Tanah Air sudah merancang kembali pendakian susulan untuk Janatan setibanya rombongan ISSEMU tiba kembali di Mendoza.
Melalui serangkaian ujian yang terasa berat, akhirnya Tim Pendaki ISSEMU (Sofian, Frans, Broery, dan Agung Max) berhasil mencapai Puncak Aconcagua pada tanggal 9 Januari 2011 pada pk. 11.30 waktu Mendoza atau pk. 21.30 WIB. Sementara Janatan berhasil mencapai Puncak Aconcagua 20 hari kemudian pada tanggal 29 Januari 2011. Janatan berhasil menggenapi pendakian Aconcagua dengan menggapai puncaknya. Ia berangkat kembali dari Mendoza menggunakan rute yang berbeda dengan Sofian, Frans, Broery, dan Agung Max yang melalui Polish Traverse Route. Janatan mendaki Aconcagua melalui 360 Route yang merupakan penggabungan dari Normal Route dan Polish Traverse Route.
Everest (8.848), Nepal – Merayakan Hari Kebangkitan Nasional Di Puncak Tertinggi Di Dunia
Sejarah mencatat pada tepat pada tanggal 29 Mei 1953 pk. 11.30 waktu Nepal, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai Puncak Everest untuk pertama kalinya. Dan sejak saat itulah selama 58 tahun, Everest tetap menjadi mimpi yang amat indah bagi tiap pendaki untuk menggapai puncaknya. Tercatat dalam www.adventurestat.com bahwa 11.000 kali percobaan dilakukan untuk mencapai Puncak Everest sejak tahun 1922 hingga 2006, di mana hanya 3.000 kali percobaan pendakian yang berhasil. Dari data itu dapat dijabarkan bahwa tingkat kesuksesan pencapaian Puncak Everest adalah 29% saja dengan menelan korban hingga 207 orang meninggal di Everest.
Di puncaknya yang kelima ini, Tim Pendaki ISSEMU kembali menggulirkan petualangnya. Hiroyuki Kuraoka, konsultan pendakian seven summits ISSEMU menyatakan bahwa Tim Pendaki ISSEMU telah memiliki kemampuan yang amat baik dan layak untuk mendaki gunung es sekaliber Everest. Perjalanan dimulai dari Lukla (2.850 mdpl), sebuah desa kecil tempat Tim Pendaki ISSEMU memulai pendakiannya menuju puncak tertinggi di dunia. Dari Lukla Tim Pendaki ISSEMU harus berjalan kaki selama 11 hari menuju Everest Base Camp (EBC). Tim Pendaki ISSEMU tiba di EBC pada tanggal 12 April 2011.
Proses aklimatisasi sangat dibutuhkan bagi para pendaki gunung di atas 4.000 mdpl. Dengan program aklimatisasi yang baik diharapkan para pendaki dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian yang semakin ke atas akan semakin berkurang kadar oksigennya sehingga pendaki dapat meminimalisir serangan Acute Mountain Sickness (AMS). Dalam pendakian menuju Puncak Everest, Tim Pendaki ISSEMU melakukan 4 kali program aklimatisasi, yaitu : proses perjalanan dari Lukla hingga EBC, pendakian Lobuche East (6.171 mdpl), pendakian camp 1 Pumori, dan pendakian ke camp 2 Everest (6.462 mdpl).
Selain empat Pendaki ISSEMU, Mahitala Unpar mengerahkan sebanyak 10 orang anggotanya (termasuk wartawan Kompas Ahmad Arif yang diberangkatkan untuk meliput pendakian ini) khusus diberangkatkan menuju EBC untuk membantu kelancaran proses pendakian Everest yang memakan waktu 2 bulan lebih. Selain tim pendukung, pendakian Tim ISSEMU di Everest melibatkan 17 orang sherpa yang terbagi dalam beberapa bidang. Sebut saja : climbing sherpa yang membantu secara langsung proses pendakian menuju Puncak Everest, high altitude cheff yang diposisikan selama pendakian Everest kali ini berada terus di Advance Base Camp atau Camp 2 dan para staf EBC yang membantu kelancaran pendakian dari base camp.
Tim Pendaki ISSEMU melakukan proses pendakian menuju Puncak Everest dalam dua kali percobaan. Pada percobaan pertama Tim Pendaki ISSEMU bertolak menuju camp 2 pada tanggal 10 Mei 2011. Dan pada tanggal 12 Mei mereka sudah tiba di camp 3 (7.300 mdpl) dengan mulus tanpa hambatan. Tetapi nasip berkata lain, baru saja 3 jam mereka melepas lelah di camp 3, tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencang. Hiroyuki Kuraoka sebagai expediton leader dari Tim Pendaki ISSEMU harus memutuskan bahwa seluruh Pendaki ISSEMU untuk turun ke camp 2. Setibanya di camp 2, Tim Pendaki ISSEMU mendapat kabar bahwa menurut ramalan cuaca, kawasan Everest akan memburuk cuacanya hingga seminggu ke depan sehingga seluruh rangkaian pendakian harus ditunda dan ini menandakan bahwa seluruh proses kegiatan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki di sana harus segera di hentikan hingga cuaca membaik. Tercatat hanya ada satu tim dari International Mountain Guide yang memutuskan untuk tetap mendaki menuju Puncak Everest hari itu dan berhasil keesokan harinya.
Akhirnya dengan penantian yang cukup lama, berita gembira bahwa cuaca Everest menunjukkan tanda-tanda yang baik berhasil didapatkan oleh Russel Brice, pimpinan Himalayan Experince. Dari sinilah Tim Pendaki ISSEMU akan segera menggelar percobaan keduanya mencapai puncak dari segala puncak gunung di dunia. Tanggal 17 Mei 2011 pk 10.15 waktu Nepal, summit push kedua kalinya untuk Tim Pendaki ISSEMU kembali dilakukan. Tercatat pada tanggal 19 Januari 2011 akhirnya mereka berhasil tiba di South Col di ketinggian 7.900 mdpl. South Col kerap disebut sebagai pintu menuju Death Zone yang berarti bahwa mereka akan segera berhadapan dengan ketinggian 8.000 meter ke atas dan menandakan pula suatu daerah di mana orang mustahil untuk hidup tanpa bantuan oksigen.
Akhirnya semua usaha yang begitu keras terbayar sudah ketika Tim Pendukung ISSEMU mengabarkan bahwa Broery Andrew Sihombing berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di Puncak Maha Gunung Everest tepat pada tanggal 20 Mei 2011 pk. 05.22 waktu Nepal atau pk. 06.37 WIB. Disusul kemudian oleh Janatan Ginting berhasil menembus ketinggian 8.848 mdpl pada pk. 07.26 waktu Nepal atau pk. 08.41 WIB. Diikuti oleh Sofyan Arief Fesa dan Frans yang mencapai Puncak Everest bersamaan pada pk. 09.45 waktu Nepal atau pk. 11.00 WIB sekaligus menggenapi prestasi Tim ISSEMU yang mendaki Everest dengan hasil one hit one victory. Perayaan pencapaian Everest ini mendapatkan pujian dari berbagai pihak bahwa anak bangsa berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest tepat perayaan Hari Kebangkitan Nasional.
Denali (6.194 mdpl), Alaska – The Seven Summiteers Pertama Untuk Indonesia
Rencana awal Tim ISSEMU bahwa pendakian akhir menuju puncak ke tujuh akan dilaksanakan pada bulan Mei 2012. Tetapi berkat usul dari Hiroyuki Kuraoka bahwa sebaiknya pendakian Denali janganlah diundur selama itu. Usulan ini cukup beralasan karena bulan Juni-Juli masih termasuk dalam musim pendakian Denali. Selain itu ia menambahkan bahwa Tim Pendaki ISSEMU masih memiliki stamina yang baik sepulangnya dari Everest dibandingkan mereka harus menetap di Tanah Air selama setahun lamanya yang pasti akan menurunkan stamina dan pembiasaan terhadap high altitude.
Dari masukan inilah akhirnya Tim Pendaki ISSEMU segera bertolak menuju Alaska selang 3 minggu beristirahat di Tanah Air. Pendakian Denali adalah pendakian yang tersulit karena para pendaki harus menghadapi jarak vertikal sepanjang 3.969 meter tanpa bantuan pengangkut barang atau porter (cat : jarak vertikal Everest adalah 3.548 meter ditambah dukungan penduh dari para porter pengangkut barang dan para sherpa). Di Denali tiap pendaki harus membawa perlengkapannya sendiri, mendirikan tendanya sendiri dan memasak sendiri. Perlengkapan yang dibawa memiliki berat total 50 kilogram dengan pembagian 20 kilogram akan dibawa dengan ransel yang menggantung di pundak dan 30 kilogram berikutnya akan dibawa dengan kereta salju atau sled yang akan ditarik oleh masing-masing pendaki.
Tim Pendaki ISSEMU tiba di Base Camp Denali (2.225 mdpl) di Padang Salju Kalhitna (24/6) setelah sebelumnya terbang dengan pesawat tipe Fokker dari Kota Talkeetna. Karena ketiadaan pengangkut barang maka Tim Pandaki ISSEMU harus membawa barang-barang mereka secara bertahap dari camp ke camp hingga akhirnya mereka akan tiba di High Camp (5.242 mdpl). Selama proses pendakian ini mereka banyak menghadapi hambatan. Hambatan terbesar datang dari cuaca yang tidak menentu. Tercatat selama 19 hari pendakiannya di Denali, Tim Pendaki ISSEMU sempat tertahaan beberapa hari di dalam tenda untuk menunggu meredanya cuaca buruk sehingga proses untuk menambah ketinggian berhasil dilakukan.
Hingga akhirnya kabar gembira itu diterima di Tanah Air bahwa Tim Pendaki ISSEMU berhasil mencapai Puncak Denali pada tanggal 7 Juli 2011 pk. 17.37 waktu setempat atau sama dengan tanggal 8 Juli 2011 pk. 08.35 WIB. Prestasi gemilang ini sekaligus menorehkan sebuah sejarah baru di dunia pendakian Tanah Air bahwa setelah sekian lama akhirnya Indonesia memiliki The Seven Summiters pertamanya yang dipersembahkan oleh empat Pendaki ISSEMU. Ini juga menandakan bahwa Indonesia akan segera bergabung bersama 52 negara di dunia yang memiliki pendaki bertitel The Seven Summiteers dan sekaligus akan bergabung bersama 275 pendaki internasional yang memiliki titel serupa.
Dukungan Penuh Dari PT. Mudking Asia Pasifik Raya
Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyewaan dan penjualan peralatan pengeboran minyak dan gas bumi ini berkedudukan di Jakarta. Melalui program Corporate and Social Responsibility (CSR), PT. Mudking Asia Pasifik Raya (PT. MKAPR) memberikan kontribusi terbesar dalam menyukseskan keberhasilan pendakian tujuh puncak benua ini. Totalitas dari PT. MKAPR memang harus diacungi jempol. Dengan penuh keyakinan akan berhasilnya program sirkuit pendakian yang tentunya akan memakan banyak sekali biaya, PT. MKAPR ternyata juga turut mendorong potensi anak bangsa agar lebih bisa berkarya lebih baik demi Nusa dan Bangsa. Dengan berhasilnya pendakian Denali yang sekaligus menutup rangkaian pendakian tujuh puncak benua, maka kami dari Tim ISSEMU dan PT. MKAPR berterima kasih kepada seluruh pihak terkait yang tentunya tidak dapat kami sebutkan satu persatu di dalam release ini. Semoga apa yang telah dilakukan oleh Tim ISSEMU dapat mengangkat derajat dan harkat Bangsa setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dan semoga dengan kegiatan ini dapat semakin membangkitkan gairah dan semangat generasi muda Indonesia untuk berkarya bagi Bangsanya.
Sumber : http://www.indonesia7summits.com/2011/08/press-release-seven-summiteers-pertama-untuk-indonesia/
Selasa, 21 Desember 2010
Three poles challenge for rugby player Richard Parks


He hopes to become the first to stand on the North Pole, South Pole and Mount Everest in the same calendar year.
He will follow in the footsteps of Antarctic explorer Captain Scott 100 years ago leaving Cardiff on Sunday.
Sir Ranulph Fiennes, Olympic rower Steve Williams OBE and Marie Curie nurse Jan Suart will join him.
Mr Parks, who has had to give up his rugby career following injury, explained why he was taking up the charity fundraising challenge.
He said: "Lying in bed following my second operation to repair my shoulder, I was suddenly faced with the reality of life without professional rugby, which had been at the centre of my entire adult life.
"I happened to be reading Sir Ranulph Fiennes book, which somehow became intertwined with a phrase from my nan's funeral: The horizon is only the limit of our sight.
"It had an immediate effect on me, helping me find the courage and mental strength to face my fears and my future head on.
Richard Parks in training Mr Parks has already climbed Mount Denali in preparation
"The mental, physical and technical challenges of Polar travel and climbing the seven summits captured my imagination.
"At the very moment I discovered the seven summits, I had decided that I was going to climb them."
The former Wales and Barbarians flanker has been in training for the challenge which will see him visit some of the world's most inhospitable places.
After reaching the Geographical South Pole, he plans to climb Antarctica's highest peak Mount Vinson, before scaling Mount Aconcagua, the highest summit in the Americas.
He will then attempt the peaks of Kilimanjaro and the Carstensz Pyramid in Indonesia before heading to The Geographical North Pole and Mount Everest.
His penultimate climb will be in North America with Mount Denali before completing his challenge with Mount Elbrus in Russia.
Sumber : http://www.bbc.co.uk/news/uk-wales-11975976
Gunung Bromo Alami Empat Kali Letusan Minor

Gunung Bromo di Probolinggo Jawa Timur yang saat ini berstatus siaga mengalami empat kali letusan minor dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan data di Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Bromo di Desa Cemoro Lawang, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo tercatat letusan minor terbaru terjadi pada Selasa (21/12) pukul 10.58 WIB selama 167 detik. "Letusan tersebut dengan amplitudo 40 milimeter dan terdeteksi pada seismograf," kata petugas dari Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Bromo, Ahmad Subhan, di tempat tugasnya, Selasa.
Subhan menjelaskan, pada saat terjadi letusan terjadi erupsi dengan material debu berwarna kecoklatan dengan ketinggian mencapai 2.000 meter. Di kepundan gunung, kata dia, juga ada material kerikil yang naik ke atas tapi kembali lagi ke dalam kepundan, sehingga belum membahayakan masyarakat.
Sebelumnya, Gunung Bromo meletus pada Senin (20/12) pukul 02.06 WIB selama 50 detik dan tekanan amplitudo 40 milimeter. Pada saat itu terjadi erupsi metarial debu berwarna kecoklatan dengan ketinggian sekitar 1.500 meter.
Sehari sebelumnya, Minggu (19/12), Gunung Bromo mengalami dua kali letusan pada jarak yang tidak terlalu jauh yakni pada pukul 10.17 WIB dan 11.27 WIB. Pada letusan pertama, tercatat selama 110 detik dengan tekanan amplitudo 40 milimeter dan pada letusan kedua tercatat selama 90 detik dengan tekanan amplitudo 90 detik.
Menurut Subhan, pada dua letusan tersebut terjadi erupsi dengan material debu berwarna kecoklatan dengan ketinggian sekitar 2.000 meter. Menurut Subhan, Gunung Bromo sejak pertama kali meletus pada 23 Nopember lalu hingga saat ini Gunung Bromo hampir selalu mengeluarkan debu berwarna kecoklatan ke udara.
Namun masyarakat di lerang Gunung Bromo menjalani kehidupan seperti biasa di tempat tinggalnya masing-masing sep-erti di Desa Cemoro Lawang, Ngadisari, Ngadirejo, dan Wonotoro di Kecamatan Sukapura. Sementara itu, Komandan Kodim Kabupaten/Kota Probolinggo Letnan Kolonel Infanteri Hery Setiyono mengatakan, Gunung Bromo saat ini berstatus siaga sejak 6 Desember lalu.
Sebelumnya, kata dia, Bupati Probolinggo menetapkan status awas sejak 23 Nopember hingga 6 Desember 2010 dan kini menurunkan statusnya menjadi siaga. Menurut dia, meskipun Gunung Bromo telah beberapa kali mengalami letuan minor tapi dinilai belum saatnya mengevakuasi penduduk sekitar ke lokasi pengungsian.
Namun, Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah membentuk Tim Penanganan Bencana Berani dan telah menyiapkan lokasi evakuasi jika nantinya Gunung Bromo mengalami letusan mayor.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/12/21/153699-gunung-bromo-alami-empat-kali-letusan-minor
Rabu, 25 Agustus 2010
The 7 summits, the highest peaks of the 7 continents

Bagi teman-teman pecinta alam atau penggiat alam bebas, mungkin sudah tidak asing lagi dengan Istilah Seven summits, sebenarnya apa itu seven summits ? menurut wikipedia, The Seven Summits are the highest mountains of each of the seven continents. Summiting all of them is regarded as a mountaineering challenge, first postulated as such in the 1980s by Richard Bass (Bass et al. 1986).
Jadi maksudnya seven summits adalah puncak puncak tertinggi yang ada di tujuh benua. Bagi beberapa pendaki, mendaki salah satu atau semua dari tujuh gunung tertinggi tersebut merupakan sebuah kebanggaan tersendiri yang tidak bisa di nilai dengan apapun, bahkan ada yang sampai datang berkali kali atau terus mencoba apabila sebelumnya gagal. berikut adalah daftar ketujuh puncak tinggi tersebut:
1. Kilimanjaro, Tinggi 5895 mdpl (Benua Afrika)
Puncak tertinggi di dataran Benua Afrika dan salah satu tempat yang paling indah di dunia; dekat dengan perbatasan Kenya, Kilimanjaro (bahasa Swahili: kilima, gunung; njaro, bercahaya) atau dulu disebut Kaiser-Wilhelm-Spitze adalah gunung di timur laut Tanzania. Gunung ini adalah gunung tertinggi di dunia yang berdiri bebas, tingginya 4.600 m bila diukur dari kaki gunung, dan 5895 m dari permukaan air laut (dpl).Termasuk golongan jenis gunung api strato dan sudah tidak aktif lagi saat ini. Gunung Kilimanjaro sekarang mulai kehilangan salju yang menyelimuti puncaknya. Gletser yang menyelimuti puncak gunung ini sejak 11.700 tahun yang lalu semakin menipis. Rute-rute pendakian resmi: Machame, Marangu, Rongai, Lemosho, Umbwe, Shira, Mweka (hanya untuk turun).
2. Denali (Gunung McKinley), Summit of North America, 6194m dpl (Benua Amerika Utara)
Inilah dia, puncak yang konon terdingin di dunia, Denali merupakan gabungan dari keindahan dan sesuatu yang sangat berbahaya! berada pada jantung Alaska dan berdiri setinggi 20.000 Feet (6194 m dpl). Suhu pada malam hari nya mencapai -40 derajat Celcius. Gunung ini pertama kali di daki oleh pada tahun 1913 oleh Hudson Stuck, Harry Karsten, W.Haper, dan R.Tatum, Kota terdekat untuk mencapai gunung ini adalah kota Talkeetna di Alaska dan airport yang terdekat adalah Anchorage. Gunung ini memiliki 5 gletser raksasa. gunung ini tidak memerlukan teknik pendakian khusus seperti beberapa gunung lain nya, namun satu yang membuat gunung ini begitu di takuti adalah suhu nya yang Ekstrim super dingin ! bahkan beberapa waktu lalu team Ekspedisi Indonesia ada yang meninggal disana
3. Mt. Elbrus, Summit of Europe, 5642mdpl (Benua Eropa)
Merupakan puncak tertinggi di Eropa, letakkan di wilayah Russia beberapa mil dari Georgia, dan merupakan puncak benua yang paling gampang di daki oleh para pendaki. Bahaya terbesar adalah cuaca yang dapat sangat jahat di gunung ini. Elbrus adalah salah satu gunung paling mematikan di dunia. Empat puluh delapan pendaki (beberapa di antaranya pemain ski atau snowboarders) meninggal di kawasan Gunung Elbrus pada tahun 2004. Elbrus merupakan gunung berapi yang telah lama sekali punah, karena letusan terakhir itu terjadi sekitar 50 AD, dan kawah yang ada (300-400 meter diameternya) sekarang dipenuhi dengan es dan salju. Gunung itu masih tetap landai, bentuk kerucut. Gunung memiliki dua puncak utama; puncak Barat di 5.642,7 meter (18.513 kaki) dan ketinggian puncak Timur pada 5.621 meter (18.442 kaki) ketinggian. Pelana antara dua puncak berada pada 5.416 meter (17.769 kaki).
4. Mt. Everest, Summit of Asia and the world, 8850mdpl (Benua Asia)
Siapa yang tak mengenal Mount Everest, Puncak ini sering dijadikan tempat tantangan untuk di daki oleh para pendaki pro. Gunung Everest (bahasa Inggris: Mount Everest) adalah gunung tertinggi di dunia (jika diukur dari paras laut). Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet; puncaknya berada di Tibet. Di Nepal, gunung ini disebut Sagarmatha (सगरमाथा, bahasa Sansekerta untuk 'Dahi Langit') dan dalam bahasa Tibet Chomolangma atau Qomolangma ('Bunda Semesta'), dilafalkan dalam bahasa Tionghoa 珠穆朗瑪峰 (pinyin: Zhūmùlǎngmǎ Fēng). Gunung ini mendapatkan nama bahasa Inggrisnya dari nama Sir George Everest. Nama ini diberikan oleh Sir Andrew Waugh, surveyor-general India berkebangsaan Inggris, penerus Everest. Puncak Everest merupakan salah satu dari Tujuh Puncak Utama di dunia. Gunung Everest adalah gunung yang puncaknya mencapai jarak paling jauh dari paras laut.
5. Mt. Aconcagua, 6962 mdpl. Summit of South America(Amerika Selatan)
Gunung ini terletak antara perbatasan Argentina dan Chille, dan masuk dalam kelompok Amerika selatan (latin) dan berada pada pegunungan Andes. Musim terbaik untuk mendaki gunung ini adalah di akhir Desember, januari, februari serta maret. Aconcagua dikenal sebagai pegunungan karang yang sangat besar dan terlihat sangat jelas dari lautan Pasifik sampai 100 Mil laut. Gunung memiliki dua puncak - Utara (6.959 meter) dan Selatan (6.930 meter), bergabung dengan punggung bukit (Cresta del Guanako) sekitar satu kilometer panjangnya. Gunung ini juga telah banyak meminta korban tewas dari kalangan pendaki, rata rata tiap tahun nya selalu ada yang tewas dalam misi pendakiannya. Pendaki pertama berhasil mencapai puncak adalah Mathias Zurbriggen dari Swiss, Ia mencapai titik tertinggi di Aconcagua pada 14 Januari 1897.
6. Carstensz Pyramid,Summit of Oceania, 4884m (Indonesia, Asia)
Menurut beberapa orang asing yang pernah mendaki nya. menaiki Cartenz adalah sebuah misteri tersendiri di rimbun nya hutan alam papua tersebut, serta ekspedisi mereka di tonton oleh orang orang dari suku pedalaman yang masih berkoteka. dan Cartenz ini merupakan satu satunya daerah yang bersalju di Indonesia.Gunung ini dulu pernah bernama Poentjak Soekarno dan merupakan gunung tertinggi kedua di Asia Tenggara. Puncak Jaya adalah salah satu dari Tujuh Puncak Utama dunia. Ekspedisi Piramida Carstenz dimulai dari Zebra Wall (3.500m), nama Zebra ini datang dari motif yang unik seperti kulit Zebra pada dinding batu. Motif ini tentu saja diciptakan ribuan tahun yang lalu.
7. Mt.Vinson Summit of Antarctica, 4897m (Benua Antartika)
Berada di sebuah tempat terdingin di bumi ini kutub selatan, Mt. Vinson merupakan salah satu dari 7 titik tertinggi yang berada di bagian bawah bumi (kutub selatan), terletak sekitar 1.200 km (750 mil) dari Kutub Selatan. Pertama dilihat pada pengintai penerbangan pesawat Angkatan Laut AS dari Stasiun Byrd pada Januari 1958. Di beri nama oleh sesuai nama Carl Vinson (juga yang nama sebuah kapal induk milik Amerika) oleh Komite Penasehat Antartika (US-ACAN), Carl Vinson sendiri merupakan ketua dewan urusan pertahanan angkatan laut dan memiliki peranan besar dalam penelitian dan Eksplorasi di Antartika pada periode 1935 sampai 1961.
Senin, 23 Agustus 2010
Gunung Rinjani, Wisata Pendakian Di Nusa Tenggara Barat

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mencatat jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan Gunung Rinjani, di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2009 mencapai 12.756 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 11.391 orang.
Jumlah wisatawan yang melakukan wisata alam dan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani pada 2009 meningkat cukup signifikan dari tahun sebelumnya, meskipun kawasan tersebut dalam status waspada.
Gunung Rinjani (3.726 di atas permukaan laut/mdpl) saat ini masih berstatus waspada tingkat II karena Gunung Barujari (2.376 mdpl) yang merupakan anak Gunung Rinjani meletus pada 2 Mei 2009.
Akibat adanya letusan anak Gunung Rinjani tersebut, seluruh jalur pendakian ditutup sementara dan dibuka kembali setelah adanya rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
Namun pihak TNGR mengimbau kepada para pengunjung yang melakukan pendakian untuk tidak memasuki kawasan Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian sekitar 2.010 mdpl sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani, karena dekat denagn lokasi letusan Gunung Baru Jari.
sebanyak 12.756 orang wisatawan yang terdiri dari wisatawan mancanegara sebanyak 9.172 orang dan wisatawan Nusantara sebanyak 3.584 orang. Para pengunjung tersebut melakukan pendakian ke Gunung Rinjani melalui empat jalur pendakian resmi yang telah ditentukan pemerintah.
Empat jalur pendakian resmi tersebut yakni jalur pendakian Torean di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, jalur Senaru di Kecamatan Kayangan Lombok Utara, jalur pendakian Timbanuh di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur dan jalur pendakian Sembalun di Kecamatan Sembalun Lombok Timur.
Khusus untuk para wisatawan mancanagera yang melakukan pendakian umumnya diajak oleh pengusaha yang bergerak di bidang jasa pendakian atau tracking organizer (TO) yang ada di wilayah Kecamatan Sembalun dan Senggigi, Lombok Barat, NTB.
TNGR merupakan kawasan wisata andalan NTB yang telah dikenal dunia internasional karena pada tahun 2004 menerima penghargaan dunia yakni "World Legacy Award" dari National Geographic sebagai daerah wisata yang berhasil mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata.
Tahun 2008 pun TNGR termasuk tiga finalis "Tourist for Tourism Award" untuk kategori "Destination Award" yang diselenggarakan oleh World Tourist and Tourism Council (WTC) yang bermarkas di London, Inggris.
Selain itu, TNGR pun telah diusulkan untuk ditetapkan sebagai geopark (taman bumi) yang akan menambah jumlah geopark dunia yang saat ini terhitung 53 buah. Geopark tersebut tersebar di 17 negara di bawah jaringan Unesco.
Rabu, 07 April 2010
Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di dunia. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 8,9 km dari permukaan air laut. Gunung Everest adalah salah satu dari beberapa gunung yang membentuk pegunungan Himalaya, yang menjadi perbatasan antara Tibet dan Nepal, di sebelah utara India.
Beberapa ahli tidak memiliki kesepakatan yang sama tentang tinggi Gunung Everest. Penelitian oleh pemerintah Inggris yang dilakukan pada pertengahan tahun 1800-an mencatat ketinggian gunung ini 8.840 meter. Penelitian pemerintah India pada tahun 1954, mencatat ketinggian yang resmi saat ini adalah 8.848 meter, namun secara luas oleh masyarakat ketinggian Gunung Everest tercatat 8.882 meter.
Nama gunung ini diambil dari nama seorang peneliti berkebangsaan Inggris Sir George Everest yang hidup pada tahun 1790 - 1866. Penduduk Tibet menyebut gunung ini dengan sebutan Gunung Chomolungma yang berarti "Dewi Bumi", sedangkan orang Nepal menyebutnya dengan nama Gunung Sagarmatha.
Banyak pendaki yang telah mencoba untuk menaklukkan Gunung Everest ini, dimulai sejak pertama kali orang Inggris melihatnya pada tahun 1953. Kombinasi antara longsoran salju, retakan tanah yang tertutup salju, angin kencang ditambah dengan kecuraman dan udara yang sangat tipis, semakin mempersulit para pendaki.
Pada tanggal 29 mei 1953, Sir Edmund Hillary dari New Zealand dan Tenzing Norgay seorang penduduk asli Nepal, menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak. Mereka anggota ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Sir John Hunt. Tim ini berangkat dari Kathmandu, Nepal pada tanggal 10 maret 1953, dan melakukan pendakian dari sisi selatan yang dikenal sebagai lereng yang tidak mungkin dapat didaki. Pada setiap pendakian yang berhasil mencapai lereng yang landai mereka membuat beberapa buah pos-pos perkemahan, masing-masing pos dijaga oleh beberapa orang anggota, sehingga makin mendekati puncak anggotanya semakin berkurang. Pos perkemahan terakhir hanya berupa sebuah tenda kecil yang berada pada ketinggian 8.504 meter, didirikan oleh Hillary dan Tenzing Norgay, yang berhasil mencapai puncak.
Pada tahun 1956 sebuah tim ekspedisi dari Swis melakukan pendakian dua kali. Tim ini juga menjadi kelompok pertama yang berhasil mendaki Gunung Lhotse, puncak gunung tertinggi ke empat di dunia dan merupakan salah satu puncak yang membentuk kelompok gunung tinggi Everest.
Pada tahun 1963, Norman G. Dyhrenfurth memimpin tim ekspedisi dari Amerika Serikat yang juga mendaki Gunung Everest. Pada tanggal 1 mei 1963, James W. Whittaker yang ditemani seorang pemandu dari Nepal Nawang Gombu, menjadi orang Amerika pertama yang berhasil mencapai puncak. Ia mendaki puncak dari sisi selatan. Thomas F. Hornbein dan William F. Unsoeld anggota kelompok ekspedisi yang sama menjadi orang pertama yang mendaki dari sisi barat yang sangat sulit, dan berhasil mencapai puncak pada tanggal 22 mei 1963.
Pada tanggal 24 September 1975 Dougal Haston dan Doug Scott menjadi pendaki pertama yang berhasil mencapai puncak melalui sisi barat daya. Mereka adalah anggota kelompok ekspedisi dari Inggris. Pada tanggal 10 Mei 1980, dua orang anggota ekspedisi Jepang, Takashi Ozaki dan Tsuneo Shigehiro, menjadi orang pertama yang berhasil mencapai puncak melalui sisi utara.
Pada tanggal 5 mei 1988, dua buah tim ekspedisi berhasil mencapai puncak dari dua sisi yang berbeda. Tim pendaki ini terdiri dari beberapa anggota dari Cina, Jepang dan Nepal. Salah satu kelompok yang beranggotakan tiga orang berangkat dari Nepal dan mendaki dari sisi selatan. Kelompok yang lain yang berjumlah delapan orang memulai pendakian dari sisi Utara dari Tibet.
Beberapa penduduk asli mengaku adanya mahkluk yang mereka sebut Yeti atau Manusia Salju yang buruk, yang hidup disekitar Gunung Everest.
"Dari berbagai sumber"
Selasa, 08 Desember 2009
Sang Pendaki

Perjalanan ini masih menyisakan begitu banyak amanah yang harus diselesaikan….
Berawal dari peralihan kondisi dari situasi yang gelap gulita menuju terang-benderang. Terlahirlah pada waktu itu seorang anak manusia di tengah-tengah awan dinginnya malam dengan pengharapan yang begitu besar. Waktu demi waktu dan masa demi masa tumbuhlah ia menjadi seorang anak yang nakal dan keras kepala. Beberapa tahun berlalu begitu singkat hingga anak tersebut telah menjadi seorang remaja. Namun ada hal yang sama sekali berbeda dengannnya, selama waktu berjalan dia berubah menjadi orang yang pendiam, suka menikmati kesendiriannya, cenderung tertutup, dan jarang berterus terang. Hingga sebuah pengharapan dan cita-cita merasuki jiwanya. Tekad yang tak pernah redup membuat segalanya tercurahkan untuk mendapatkan dan menjadi yang terbaik. Berbagai halangan dan rintangan menghantui jejak langkah yang sunyi. Impian dan cita-cita tak pernah hilang dan senantiasa datang silih berganti.
Harapan akan suatu pagi yang hangat dan cerah membuat hati tak pernah redup memikirkan indahnya suasana pagi. Namun kegelisahan dan perasaan takut terus menghantui diri yang lemah. Situasi ini diperparah dengan kekuatan yang tidak seperti dulu, namun perubahan haluan dengan penguasaan akan kekuatan diri seperti dulu menjadi kekuatan yang besar untuk mendapatkan segalanya. Pengharapan yang besar menjadi kekuatan dalam transformasi diri menjadi seorang yang terbuka, asertif, dan berfikir untuk mendapatkan solusi terbaik dari kehidupan yang dilalui. Perjalanan terjal lagi mendaki menantikan gilirannya untuk menjadi saksi atas torehan tinta kehidupan dan yang akan terkenang selamanya. Kerinduan akan semangat dan keinginan yang kuat tidak akan pernah berhenti selama masih bisa bernafas, dan selama lilin masih bisa menerangi dengan cahayanya yang menyinari.
Bravo Lalimpala
Minggu, 07 Juni 2009
Everest Akan diBersihkan

BEIJING - Gunung Everest telah didatangi para pendaki selama 50 tahun. Sejak itu gunung yang menjadi favorit para pendaki itu telah disebut sebagai tempat sampah terbesar di dunia.
Sampah yang dimaksud tidak hanya bungkusan makanan tapi juga tas para pendaki, tenda kemah, tabung oksigen dan bahkan sejumlah mayat manusia. Oleh karena itu tidak heran jika China berencana untuk membersihkan gunung yang menjadi bagian dari lingkungan Himalaya itu. Langkah ini juga dilakukan untuk melindungi Himalaya dari kepunahan.
"Target kami adalah membatasi jumlah para pendaki yang ingin menjelajahi Everest sebagai bentuk pencegahan atas aksi mereka yang dinilai merusak ekosistem gunung," ujar kepala perlindungan wilayah Tibet Zhang Yongze, seperti dikutip melalui Associated Press, Selasa (24/6/2008).
Gunung tertinggi di dunia ini, dengan tinggi sekira 29,035 kaki, terletak di perbatasan China dan Nepal. Para penduduk di kedua wilayah tersebut mendapatkan mata pencaharian dari para pendaki gunung. Namun jumlah rute dan akumulasi reruntuhan gunung yang semakin meningkat mengakibatkan pejabat wilayah menutup akses ke gunung untuk sementara.
Tahun lalu, sekira 40.000 orang telah mendaki gunung everest dengan akses melalui China Tibet, dan sekira 2000 orang atau 10 persenya mendaki Everest melalui Nepal. Para aktivis lingkungan memprediksi para pengunjung tersebut dapat meninggalkan sekira 120 ton sampah, atau sekira 6 pon sampah setiap pengunjungnya.
Selain membatasi jumlah pengunjung pada tahun 2009, pemerintah Nepal juga memperkuat regulasi bagi para pendaki. Sekarang, para pendaki dan pemandu diharuskan membawa kembali setiap sampah yang mereka hasilkan di gunung tersebut. Jika tidak maka mereka akan dikenakan denda sekira USD4000.
Selasa, 03 Februari 2009
Dua Hari Hilang di Merapi
Tersesat di Merapi, Mahasiswa UGM Selamat !

Magelang - Enam mahasiswa UGM Yogyakarta yang tersesat dua hari di Gunung Merapi ditemukan dalam kondisi selamat. Namun, kondisi mereka cukup memprihatinkan. Lima orang dalam kondisi kelaparan, seorang lainnya mengalami patah tulang kaki dan kanan.
Korban yang pertama kali ditemukan adalah Zuhri Habibullah (18), yang ditemukan oleh Rusmanto (34) penduduk Desa Gowok Sabrang. Zuhri ditemukan setelah tergelincir dari bukit ke Sungai Kali Tringsing.
"Saat ditemukan, dia terkapar di tepian kali yang kebetulan dekat dengan jalan setapak. Dia lalu diselamatkan dengan cara ditandu dengan menggunakan batang pohon," kata Rusmanto saat ditemui detikcom di RSUD Muntilan, Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Selasa (3/2/2009).
Setelah sampai di pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan sekitar pukul 10.00 WIB, Zuhri langsung dilarikan ke RSUD Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sampai di RSUD Muntilan, Zuhri langsung masuk ke UGD RSUD Muntilan dan menjalani perawatan.
Setelah itu, kelima pendaki lainnya ditemukan. Mereka adalah Fachrul Rozi (18), Ikrar Reza (19), Rizky Al Ikhlas (18), Prima Yudha (18) dan Zangga (18). Mereka yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik itu dalam kondisi lemas dan kelaparan.
Kelima pendaki ini ditemukan oleh Kirun (35), salah satu penduduk yang sedang mencari rumput di sebelah barat puncak Gunung Merapi. "Saat itu saya sedang mencari rumput di sebelah barat kaki Gunung Merapi. Tiba-tiba ada rombongan pendaki yang sedang datang dengan tergopoh-gopoh. Dia mengeluh minta tolong tersesat dan minta makanan karena kelaparan," tegas Kirun (37) kepada detikcom.
Begitu melihat kondisi kelima pendaki pucat dan lemas, akhirnya Kirun bersama Rukardi meminta pertolongan ke penduduk lainnya. Dengan dinaikkan sepeda motor, kelima pendaki kemudian dievakuasi ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Desa Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
UD Muntilan oleh tim SAR Yogyakarta. Suasana haru mewarnai pertemuan mereka. Usai sadar dari pingsannya, Zuhri angsung mengeluarkan air mata saat bertemu kelima temannya. Dia merasa bersyukur kelima temannya selamat. Sementara kelima pendaki itu langsung dibawa ke Yogyakarta setelah mendapat penanganan medis. Sedangkan Zuhri masih harus dirawat intensif.Tidak Melapor
Para mahasiswa UGM ini mulai mendaki Merapi pada Sabtu lalu. Namun, diduga mereka tidak melapor terlebih dulu ke Pos Pengamatan dan Pendakian Merapi di Pos Selo, Yogyakarta. "Sempat lapor nggak yah? Siapa yang lapor yah? Sempat ada orang penjual suvenir yang tahu," tegas Zuhri, salah seorang pendaki.
Namun, Zuhri tidak menjelaskan apakah rombongannya mampir dan masuk ke pos pendakian Selo lebih dulu dan absen sebagai tanda melapor di pos pengamatan Merapi dan Pendakian Pos Selo, Yogyakarta atau tidak. Zuhri mengaku bahwa kegiatan pendakian itu dilakukan dalam rangka syukuran salah satu temanya. Tidak acara resmi yang dilakukan oleh kampus UGM.
Menurut Zuhri, dirinya dan teman-temannya tiba di Pasar Bubar pada Sabtu malam, lantas mendirikan tenda karena hujan lebat. Usai hujan lebat, Minggu pagi, mereka melanjutkan perjalanan ke Puncak Garuda yang merupakan puncak pendakian.
"Dengan membawa bekal hanya satu botol aqua, kami naik menuju ke Puncak Garuda. Kami optimistis, sebab tidak terjadi hujan dan kabut tidak begitu tebal. Paling tidak dalam waktu dua sampai tiga jam kami optimis akan sampai di Puncak Garuda," tegas Zuhri.
Namun, sesampai di Puncak Garuda, tiba-tiba kabut menebal dan hujan disertai angin kencang datang tiba-tiba. Akhirnya mereka kebingungan untuk turun dan saat itulah tidak tahu berada di posisi mana.
"Saat itulah saya berinisiatif untuk memisahkan diri mencari pertolongan ke penduduk desa setempat. Namun, saya malah tergelincir dan tidak sadarkan diri. Tahu-tahu ditemukan penduduk setempat," tegas Zuhri(asy/asy).
Sumber "Parwito - detikNews"
Kamis, 22 Januari 2009
Pendakian Gunung Semeru Ditutup akibat Cuaca Buruk

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), menutup total pendakian di Gunung Semeru sejak awal Januari 2009 akibat cuaca buruk.
Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan dan Humas TNBTS Kota Malang Nova Eliana kepada Media Indonesia, Senin (12/1), mengatakan penutupan gunung tertinggi di pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut) itu dilakukan sejak 5 Januari lalu hingga waktu yang belum ditentukan. Sedangkan statusnya waspada.
Hasil laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung, yang memantau aktivitas Gunung Semeru di Pos Pantau Gunung Sawur, Kabupaten Lumajang, menyebutkan intensitas hujan gerimis hingga deras sejak Desember 2008-Januari 2009 sangat tinggi. Pantauan intensitas hujan dalam sehari tercatat sebanyak 20 kali.
Selain itu terjadi penurunan dratis pada suhu udara, terendah mencapai 21 derajat Celcius sedangkan tertinggi hanya 23 derajat Celcius. Penurunan suhu udara itu dinilai membahayakan keselamatan pendaki karena pendaki berpotensi terserang hipotermia (keadaan tubuh merasa kedinginan) bila aktivitas perndakian gunung tetap dibuka. Angin juga bertiup sangat kencang, tegasnya.
Untuk itu, ujarnya, direkomendasikan kepada masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Semeru, terutama di sepanjang aliran Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, dan Besuk Kabokan, Kabupaten Lumajang, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya longsor dan banjir yang membawa material vulkanik.
Selain mempertimbangkan cuaca buruk, kata Nova, penutupan Gunung Semeru juga disebabkan adanya perbaikan jalan dan pemasangan papan penunjuk jalan di jalur pendakian. Kami juga sedang melakukan revitalisasi ekosistem di sepanjang jalur pendakian yang mengalami kerusakan setelah pendakian dibuka untuk perayaan tahun baru 2009, tukasnya.
dengan melihat kondisi yang ada, mau ga mau kawan2 yang mo ke semeru di undurin dulu plannya !
Sabtu, 22 November 2008
Aroma Pendakian Gunung katopasa
- Flora : Rotan, pohon Damar, pohon Gaharu, dan pohon-pohon jenis lainnya.
- Fauna : Kijang, babi, sampai jenis hewan endemik dan di lindungi yaitu Anoa.
Untuk melakukan aktivitas pendakian ke puncak katopasa, para penggiat alam bebas (pendaki gunung) dapat memulai titik star melalui desa Mire, yang merupakan satu-satunya gerbang pendakian semenjak di rintis (buka jalur) dalam team ekspedisi mahasiswa Pecinta Alam Lalimpala FKIP univ. Tadulako, Palu Sulawesi Tengah pada tahun 1996. Dan pendakian membutuhkan waktu antara 4 – 6 hari, dengan jalur bervariasi serta mata air pegunungan yang slalu ada di saat haus dan lapar, Dengan panorama alam yang sangat indah, aneka flora fauna pegunungan sehingga sangat menarik bagi penelitian dan fotografer lingkungan, dan Gunung Katopasa sangat cocok menjadi salah satu pilihan bagi penggiat alam bebas dan tujuan wisata (eko wisata) di negeri ini.
Sabtu, 27 September 2008
Sir Edmund Hillary
Penakluk Puncak Everest Itu Telah Tiada
Sir Edmund Hillary, orang pertama yang mencapai puncak Gunung Everest, meninggal dunia karena serangan jantung di Rumah Sakit Auckland, Selandia Baru, Jumat (11 Januari 2008) pagi jam 9.00 waktu setempat. Demikian pernyataan Badan Kesehatan Distrik Auckland. Hillary meninggal pada usia 88 tahun.
Perdana Mentri Selandia Baru, Helen Clark, mengenang Hillary sebagai seorang “Colossus”, sebuah pernyataan yang menyejajarkannya dengan seorang tokoh fiksi ciptaan Len Wein dalam komik Marvel.
“Ia seorang Kiwi tulen. Ia milik kita - dari penampilannya yang bagai cadas yang menjulang dan gayanya berbicara singkat tapi mengungkapkan banyak hal hingga keterusterangan dan kejujurannya. Seluruh rakyat Selandia Baru menangisi kepergiannya,’ kata Clark.
Dari informasi di Wikipedia, Edmund Hillary adalah seorang pendaki gunung dan penjelajah; ia lahir pada tanggal 20 Juli 1919. Pada tanggal 29 Mei 1953 ia dan Tenzing Norgay, seorang pendaki gunung asal Nepal menjadi pendaki pertama yang dikenal mencapai puncak Gunung Everest. Mereka adalah Bagian dari ekspedisi Inggris ke sembilan ke Everest, yang dipimpin oleh John Hunt.
Edmund Hillary adalah anak dari pasangan Percival Augustus Hillary dan Gertrude Hillary, dan dilahirkan di Tuakau, selatan Auckland. Kakek dan neneknya merupakan pendatang pertama di Wairoa bagian utara pada pertengahan abad 19, setelah beremigrasi from Yorkshire. Hillary mengenyam pendidikan di Auckland Grammar School. Perjalanannya ke dan dari sekolah dengan bus menghabiskan waktunya sekitar 4 jam sehari. Dalam bis dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca. Pertumbuhannya fisiknya terhambat, hal ini kelihatan dari ukuran fisiknya yang lebih kecil dari teman-teman sebayanya. Hal ini membuatnya malu dan rasa malu ini membuatnya ‘melarikan diri’ membaca buku-buku dan mengkhayalkan suatu kehidupan yang penuh dengan petualangan.
Pada umur 16 ia tertarik pada pendakian gunung setelah kunjungan sekolahnya ke Gunung Ruapehu. Meskipun kurus dan tak terkoordinasi, ia mendapatkan dirinya cukup kuat secara fisik ketimbang teman-temannya. Pada tahun 1939 ia menyelesaikan pendakian penting yang pertama, mencapai puncak Gunung Oliver in Southern Alps, Selandia Baru.
Atas prestasinya menaklukan Everest, Edmund Hillary mendapat berbagai penghargaan. Hillary merupakan orang Selandia Baru pertama yang masih hidup yang gambarnya menghiasi lembaran uang kertas. Gambarnya muncul pada uang kertas 5 dollar Selandia Baru pada tahun 1992.
Pada peringatan 50 tahun penaklukan Everest, pemerintah Nepal menganugerahkan kewargaan kehormatan kepada Hillary pada suatu peringatan khusus di Kathmandu. Penghargaan lain termasuk: Knight Commander of the Order of the British Empire (KBE) pada tanggal 6 Juni 1953, anggota Order of New Zealand (ONZ) pada tahun 1987 dan lain-lain. (*)
January 14th, 2008 by nias in Berita Aktual
Minggu, 21 September 2008
Sebuah Petikan Gunung.
20:26 WIB
JAKARTA, KAMIS -- Kawasan gunung api di Indonesia yang relatif banyak, bisa dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata minat khusus. Jika dikelola dengan baik tidak hanya wisatawan lokal yang berminat, tetapi juga wisatawan mancanegara. Sejauh ini wisatawan nusantara yang berkunjung ke kawasan gunung api per tahun sekitar 5.000 orang dan 4.000 orang wisatawan asing.
Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Firmansyah Rahim, mengatakan hal itu pada peluncuran Indonesian Supervolcano Mountaineering Challenge 2008, Kamis (11/9) di Jakarta. "Keberadaan gunung api di Indonesia sangat potensial dikembangkan sebagai tujuan wisata minat khusus," ujarnya.
Menurut data, ada sekitar 240 gunung api di Indonesia atau 13 persen dari jumlah gunung api di dunia. Dari jumlah sebanyak itu, 70 gunung di antaranya merupakan gunung api aktif, karenanya Indonesia dikenal sebagai negara vulkanik atau negara yang bercincinkan api.
Firmansyah Rahim menegaskan, pihaknya sangat mendukung kegiatan Indonesian Supervolcano Kountaineering Challenge 2008 di Gunung Tambora dan Gunung Rinjani, yang digelar Federasi Mountaineering Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Dompu, dan Pemerintah Kabupaten Bima, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 14-28 Oktober mendatang. "Persiapannya harus matang dan pelaksanaannya harus berjalan baik. Jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari," katanya mengingatkan.
Ketua Pelaksana J Alexander mengatakan, kegiatan Indonesian Supervolcano Mountaineering Challenge 2008 adalah kegiatan ekowisata berbasis mountaineering di kawasan pegunungan, melalui lomba mendaki gunung tingkat nasional, berhadiah total uang Rp70 juta. " Dengan memperhitungkan potensi dan keunikan masing-masing, gunung di Indonesia merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk kegiatan pariwisata, olahraga, rekreasi dan petualangan, ujarnya. Supervolcana dapat dijadikan ikon promosi pariwisata Indonesia," tandasnya.
Kegiatan ini, kata Alexander, dapat dijadikan pendekatan bagi sektor pariwisata untuk menjaring wisatawan nusantara dan mancanegara, sekaligus sebagai media untuk memperkenalkan alam dan budaya Indonesia. Dari sisi konservasi akan bermanfaat dalam mewujudkan konservasi kawasan secara berkelanjutan.


