#Terima Kasih Atas Kunjungan Anda di Blog Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam LALIMPALA Univ. Tadulako Palu Sulawesi Tengah-Indonesia# Selamatkan Bumi Indonesia hari ini dan mulai dari lingkungan kita sendiri#Save Our Earth

Jumat, 22 Mei 2009

Komunitas di Pedalaman Sulawesi Tengah

TAU TAA WANA


Secara etnografis, Tau (orang) Taa atau To Wana merupakan sub etnis dari kelompok etnolinguistik Pamona yang mendiami wilayah-wilayah sekitar sungai Bongka, Ulubongka, Bungku Utara dan Barong. Orang Wana memakai dialek Wana yang termasuk di dalam rumpun bahasa Pamona sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Dialek Wana juga disebut dialek Taa, sebuah varian dalam bahasa Pamona (Atkinson, 1992).


Catatan hasil ekspedisi yang dilakukan oleh Walter Kaudern pada tahun 1917-1920, menjumpai sebuah
komunitas rumpun Poso-Toradja dengan sebutan To Ampana (Taa) di wilayah pesisir pantai sekitar Tanjung Api sebagaimana layaknya yang terdapat di kawasan aliran sungai Bongka. Di kawasan pedalaman di lengan timur laut Sulawesi, tinggallah sekelompok komunitas asli dari To Ampana (Taa). Juga dijumpai keberadaan mereka di sekitar dan sepanjang DAS Bongka dengan sebutan To Wana, yang berarti “orang yang memiliki hutan/ tinggal di hutan”. Mereka ini bukanlah komunitas yang berbeda, namun merupakan komunitas yang sama dengan To Ampana, hanya saja mereka tinggal di kawasan pedalaman hutan. Selanjutnya menurut Kaudern dengan mengutip catatan Kruyt, To Wana ini tinggal di kawasan berlembah sepanjang aliran sungai Bongka, dimana tempat-tempat yang masih terekam dalam catatan tersebut antara lain : Bongka Soa, Bintori, Karato, ngKananga, Karoepa, dan Bone Bae.
Berdasarkan asal usul orang Taa-Wana, Kruyt (1930) membagi orang Wana dalam empat suku besar, yakni pertama suku Burangas (dari Luwuk mendiami desa Lijo, Parangisi, Winanga Bino, Uepakatu dan Salubiro); kedua suku Kasiala berasal dari Tojo pantai (Teluk Tomini) yang mendiami desa Manyoe, Sea, juga sebagian desa Winanga Bino, Uepakatu dan Parangisi; ketiga suku Posangke yang berasal dari Poso, menempati wilayah Kajupoli, desa Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo dan Salubiro; dan keempat suku Untunu Ue (hulu sungai) mendiami lokasi Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro dan Rompi.

Secara linguistik, menurut Alvard (1999) orang Wana bertutur dalam bahasa Taa yaitu sebuah bahasa yang banyak digunakan disekitar kawasan pesisir dan dataran rendah di sekitar Cagar Alam Morowali. Orang Wana Posangke mendiami daerah dataran tinggi yang berlembah di sebelah barat Cagar Alam Morowali, yang lokasi mukimnya tersebar di sepanjang sungai Salato, sungai Sumi’i, sungai Uwe Kiumo dan Uwe Waju. Sumber mata air sungai Salato berhulu di Gunung Tokala dan bermuara di sebelah barat (Teluk Tolo).

Wilayah sebaran utama “Tau Taa Wana”, pada umumnya membentang dari bagian timur dan dan timur laut Cagar Alam Morowali (Kabupaten Morowali) sampai di bagian barat Pegunungan Batui (Kabupaten Banggai) dan Pegunungan Balingara (Kabupaten Poso – sekarang Tojo Una-Una) dalam wilayah tersebut konsentrasi terbesar pemukiman komunal (lipu) mereka, berada di sekitar gunung Tokala, Ponggawa, Katopasa dan lumut.

Masyarakat Adat Taa Wana yang dimaksud adalah kelompok “Wana” yang bermukim di pedalaman hutan dan pegunungan, dengan alasan bahwa kosa kata tersebut tidak menghilangkan cara mereka mengidentifikasi diri dan untuk membedakan mereka dengan komunitas “Topa Taa” yang tidak lagi memenuhi unsur-unsur sebagai masyarakat hukum adat.

Sumber : http://www.ymp.or.id/